Pada masa sekolah dasar, saat anak-anak lain sibuk mengejar bola atau menghabiskan uang saku untuk kegembiraan sesaat, Ray sudah mulai belajar bersahabat dengan peluh. Ia pernah mencoba peruntungannya dengan berjualan berbagai macam es di lingkungan sekolah, mulai dari es teh yang manisnya sederhana, es rujak yang unik, hingga es buah yang berwarna warni. Harganya sangat merakyat, hanya dua ratus rupiah per ikat, sebuah angka yang barangkali kecil bagi dunia namun sangat berarti bagi saku kecil seorang anak sekolah. Meskipun terlihat biasa saja, dari sinilah Ray mulai mengenal apa artinya usaha dan bagaimana rasanya memupuk ketekunan sejak usia dini.
Ray adalah anak yang memiliki jiwa yang berbeda. Di saat kantin sekolah selalu riuh dengan antrean anak-anak yang ingin jajan, Ray justru memilih untuk berdiri di sisi yang lain. Ia paling tidak suka membuang-buang uang hanya untuk kesenangan lidah yang sekejap. Sejak kecil, hatinya sudah tertanam rasa sayang jika harus menghamburkan apa yang didapat dengan susah payah. Ia lebih memilih untuk menyimpan setiap keping koinnya, atau membawanya pulang untuk melihat senyum ibunya. Bagi Ray, ada kepuasan yang jauh lebih dalam saat melihat tabungannya bertambah dibandingkan rasa manis dari jajanan mana pun di sekolah itu.
Suatu sore yang teduh di halaman sekolah, saat angin berhembus pelan menyapu debu, Ray duduk bersama dua sahabat setianya, Reza dan Holis. Di antara obrolan tentang pelajaran dan permainan, Ray mulai bercerita bahwa ia sedang menekuni kesibukan barunya berjualan es. Ia menyebutkan satu per satu dagangannya dengan nada bangga yang tersamar.
Reza yang belum pernah mendengar tentang es rujak langsung menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, “Es rujak itu seperti apa bentuknya, Ray? Aku benar benar belum pernah mencoba rasa yang seperti itu.”
Ray pun menjelaskan dengan bahasa yang jujur bahwa es rujak adalah perpaduan dari buah buahan segar yang diiris tipis, diselimuti bumbu yang sedikit pedas, lalu dibekukan hingga menjadi kristal-kristal dingin yang menyegarkan. Rasanya adalah perpaduan antara manis, segar, dan kejutan pedas di ujung lidah. Holis pun menyahut dengan penuh dukungan, karena ia sendiri ternyata sering membantu menjual jajanan kecil di kantin untuk menambah uang saku. Di sana, di bawah langit sekolah yang mulai jingga, Ray merasa bahwa perjuangannya bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan sebuah kehormatan kecil.
Setiap hari, Ray berjalan berkeliling menawarkan ikat-ikat es itu. Dengan tas plastik di tangan dan langkah yang mantap, ia mendatangi teman-temannya. Awalnya, memang ada beberapa pasang mata yang menatap ragu, mungkin asing dengan es rujak buatannya. Namun, karena harganya yang sangat terjangkau dan kesegaran yang ditawarkannya di bawah terik matahari, perlahan lahan dagangan Ray selalu habis tidak bersisa. Ray sendiri sangat disiplin, ia tidak pernah tergoda untuk mencicipi dagangannya sendiri hanya karena keinginan sesaat. Ia menjaga setiap ikat es itu seolah menjaga amanah yang besar.
Kehangatan lain muncul suatu hari ketika seorang guru tanpa sengaja mencicipi es teh buatannya. Guru itu tersenyum dan berkata bahwa rasa manis es teh milik Ray sangat pas di tenggorokan. Guru itu juga membisikkan pesan agar Ray terus menjaga semangat usahanya. Kata kata itu terasa lebih sejuk daripada es mana pun yang pernah Ray buat, menjadi bensin bagi jiwanya untuk terus melangkah lebih jauh.
Dari pengalaman jualan es teh, es rujak, dan es buah yang selalu laku itu, Ray memetik pelajaran yang tidak tertulis di papan tulis kelas. Ia belajar bahwa usaha yang dilakukan dengan niat yang murni dan sungguh sungguh akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju keberhasilan. Lewat jualan es ini, Ray mengasah tanggung jawabnya, belajar berbicara dengan hati kepada orang lain, dan mulai menghargai setiap inci proses yang ia lalui. Di antara kepingan koin dua ratus rupiah itu, Ray sedang membangun pondasi bagi dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tidak mudah goyah oleh keadaan.